Kata-kata menjadi fakta menyenangkan baru saja dialami oleh sejumlah sumberdaya dosen handal UMI.
Belum cukup sepekan ini pada pundak pencerdas anak bangsa itu telah disematkan penghargaan pemerintah berupa pemberian hak untuk dipanggil dengan panggilan Professor dan Associate Professor.
Insya Allah, tambahan jumlah dosen UMI yang jabatan akademik nya meningkat itu akan diikuti peningkatan mutu pendidikan dan tambahan magnet/daya tarik bagi anggota masyarakat (camaba) yang akan bakal memilih UMI (S1., S2. dan S3.) sebagai tempat yang tepat menata cara berfikirnya (baca : berbanding lurus).
Turunannya, akan tiba di soal soal yang terkait kesejahteraan, pada etape ini, simpang siur di peta jalan karir sembari bersiul disimpang jalan fikiran pasti terjadi.
Upaya merawat jabatan akademik atau meraih jabatan struktural adalah konsekuensi logis dari kenaikan jabatan akademik, problemkah ?. Akoepoen tak tau.
Maka, sekali ingin meraih penghargaan tertinggi di profesi keguruan/dosen pada kejuruan terkait, diperlukan kejujuran ilmiah, yakini dulu bahwa ilmu pengetahuan yang tertinggi adalah ketika manusia telah sanggup melaksanakan hakekat kehalifahannya yaitu memakmurkan alam semesta.
Tapi, bila ingin mendapat penghargaan plus dari institusi lain (pemerintah dan atau swasta) dengan tanpa melepaskan predikat/status dosen (baca : pendidik), katakanlah menjadi tink tank, tenaga ahli, stafsus, konsultan dll.dsb.dst. maka, kapasitas dan kapabilitas individu yang berbasis intelektualitas dan integritas adalah taruhannya.
Kita mesti optimis, karena menumbuhkan optimesme dalam situasi dan kondisi apapun adalah perintah agama (QS. Yusuf : 87). Insya Allah UMI akan semakin kompetitible.
Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakaatu
By. :
Assoc. Prof. Dr. Abbas Selong, SE.,MSi. (Dosen Pascasarjana UMI).